YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Aku Menunggu

Aku ruang senyap setia ditemani
rembulan. Menoleh ke belakang dan
bertemu pedih. Menengadah, bersua
ketidakpastian.

Pernah berandai melambungkan imaji
terlalu tinggi. Kabut gairah menjelma
bunga malam. Napas rindu
membuat lapar sekujur tubuh
akan sebuah tunggu.
Merah menyinari senyum dan pipi,
aku nanti selalu.

Tapi terlalu jauh. Dewi, meski
setia berakar dalam dirimu
kasih kau sorotkan.
Aku jemu, karena jarak ini.
Hasratku mendekapmu, kuat.
Hasratku mengukungmu, tangguh.
Hasratku menguasaimu, dalam.

Adalah jarak terentang, sebuah musuh
teruntuk aku.
Dan kau, masa lalu, jauh
serta tak mampu kugapai, aku runtuh.

Hei. Andai saja aku tidak begitu jauh,
menjadikan aku milikmu, maukah kau?
Dibanding aku menunggu pintu
yang tidak diketukmu
sebab aku tahu kau diciptakan
menggantung diri sebagai rembulan.
Menyinari jalan,
tapi tidak teruntuk kusayang.

Teruntukmu seseorang nun di Pulau Jawa. Aku bahkan tak yakin kau masih ingat cinta yang lampau.
6.5.2014.

Takut

Sesederhana itukah?
Semudah matamu memejam,
merasakan ucapku merambat dan
merasuki genderang telinga
milikmu yang kurasa,
teruntukku berkata.

Tapi, sukaku lebih kepada saat
bulu matamu menyentuh pipi, meresap
lafalku.
Karena ketika diharuskan pandangku
membalas lirikanmu,
merah warna elokkan pucat wajahku.
Hei, aku malu dan kau pun begitu.
Namun, aku masih merajut kata,
dan terus kau mengatup mata,
Sebab meski malu meraja,
kau dan aku ingin pertahankan keindahan
yang dua kali terungkap,
tidak akan.

Apakah ini cinta? Mungkin saja.
Tapi kita masih bermalu rasa
terkadang aku merasa sia.
Pun kueluh,
takutku kau menjauh.

Teruntuk seseorang yang mampu mengembangkan senyumku tanpa berusaja sedikit pun.
9.4.2014.
Di kamar hotel dengan selimut kasar dan seorang teman yang berbaring pasrah, tak bisa tidur.