Bilamana rasaku,
merupa bom waktu yang
dengan detik dia bertentang
pastikan aku kehidupan menit tak
habis kegigihan besi jarum tuju maut.
Sebagaimana dadaku sesak
dikuasai tunggu tapi,
berhadapan tipu muslihatmu,
mesti aku.
Barangkali aku kelak dengar dentuman
kencang, ketika saatnya tiba.
Lapis emosiku, dia hamburkan.
Jelma ia sebuah kobaran,
mana yang tak akan kau lupakan.
Bermain api, riak kemarahan
mungkin tak akan lagi padam, dan
dalam sekali
desak aku kepada sanubari
singkirkan dirimu,
lagi.
Mencinta aku masih, tetapi.
Tidak setega itu aku mengayak rasa
yang terbenam oleh karena
kamu.
Sebab bagaimana walau
tidak jerempak aku pada
hati kecil harapkan,
kuaku aku setia.
Keterlaluan malah.
Dan sakit terasa di dada,
kausuka dia kuduga.
Aku tidak pernah kaucinta,
kurasa.
Teramat untuk seseorang yang sedekat teman baik, seolah olah memberikan harapan palsu, menjauhkan hati yang kurasa tak pernah merasa satu.
18.05.2014. Pangkalpinang
Di ataa sofa mendengar lagu EDM yang benar benar tidak sesuai dengan puisi melankolis seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar