Kau adalah segalanya yang tak pernah kuharapkan. Segala yang datang mendadak, menerjang tanpa ampun. Segala yang membayangi mimpiku dengan lekat bibir panasmu. Segala yang tadinya asing dalam jumlah dentum jantungku. Segala yang, bagiku, adalah segalanya.
Padahal, aku tidak pernah menyangkamu. Kau muncul dalam ketidakmungkinan. Membimbingku yang tersesat diombang-ambing ombak cinta masa lalu. Kau hampiri aku, tidak diduga dan tidak diundang. Oh, di antara senyum manismu, kau berdosa; karena datang tanpa isyarat. Maka dari itulah aku merasakan sakit ini.
Cemburu. Dan kepasrahan.
Bahwa ternyata kau telah mencintai yang bukan aku. Dari rona pipi hingga lentik bulu matanya, aku bukan tandingannya. Sebelum menghadap perang, aku mengalah. Karena aku tahu, bahwa relung hatimu sempit. Kau tidak dapat menampung aku dan dia sekaligus. Apalagi, karena dia telah lama di sampingmu. Lebih banyak yang kau kenal tentangnya, daripada siapa namaku.
Tapi, kemudian, kau membawa harapan kepadaku. Mengenalku dan tertawa bersamaku. Berbincang denganku meski kau pelajari sudah aku menghabiskan waktumu. Dari pancaran sinar matamu, kukira itu cinta. Bermimpi itu hasrat. Karena aku merasa nyaman dan kau tidak menolak kehadiranku. Lagi, tindakmu membayang tidurku.
Mungkin ini saatnya aku mengakui bahwa angan-angan memang kejam. Mengira kau miliki sedikit rasa terhadapku. Mengira kau lebih memilih aku. Mengira kau bisa melupakannya. Mengira kau akan menjadi milikku. Nyatanya, pandanganmu tertuju hanya pada gadis cantik itu.
Aku kembali melihatmu dari jauh. Asumsimu aku menghindarimu. Padahal, aku lebih mengartikannya sebagai: aku tidak ingin terluka lebih dalam lagi. Karena aku hanya ingin dirimu untukku. Api iri membakar jiwa yang memujamu. Cemburu ini, tanda cintaku harus memilikimu. Tapi kau berandal yang merusak kurunganmu. Aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya. Hanya sisa eksistensimu. Aku miliki kenangan hadirmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar